Tak pelak kita menolak, tak pelak kita tidak menerima kembali.
Suatu ketika datanglah saudagar kaya, yang membutuhkan pertolongan untuk mengelola bisnisnya di daerah si A, membuat cabang baru di daerah kamboja (sebutlah nama samarannya)katanya, dengan sepenuhnya mempercayai si A.
Si A adalah karyawan saudagar kaya tersebut, karena merasa ingin menolong dan bersikap baik terhadap saudagar kaya tersebut si A menyanggupinya, setelah bebrapa lama cabang di daerah kamboja maju pesat berkat bimbingan si A, terhadap karyawa-karyawan berhubungan baik, ternyata saudagar kaya tersebut merasa tersaingi.. tanpa alasan yang kuat saudagar kaya itu mendadak ingin pindah ke daerah kamboja ingin bahwa pabriknya hanya satu di kelola oleh saudagar kaya itu saja.
karena si A merasa tak punya modal sedikit pun atas pabrik yang ia jalankan, si A meng iya kan saja apa keinginan bosnya yang kurang bisa mendidik karyawannya.
Setelah pabrik yang didirikan di dekat rumah karyawan si A berjalaln setahun, ternyata pabrik berjalan seret... tak da satupun karyawan yang ingin berrelasi dengannya.
Namun, memang namanya pabrik baru. ketika baru-baru pindah memang banyak karyawan yang melamar pekerjaan terhadap pabrik tsb. si bos pun semakin besar kepala, dia merasa pabrik yang ia jalankan akan sukses tanpa bantuan si A. Namun karyawan mana yang betah terhadap perilaku bos yang egois.
Bagaimana jadinya sebuah pabrik tanpa seorang karyawan, tak ada produsen.
Dengan muka yang tebal si bos menghampiri si A, untuk mencarikan produsen dan bersedia mengantarkan barang setengah jadi untuk di olah di rumah si A.
Bos yang bermuka tebal, bermuka tembok, menjilat ludah sendiri!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar